Kamis, 22 November 2007

Hari ini

Assalamu'alaikum....

Ah....kehausanku untuk membaca novel yang sedari dulu aku buru, aku tunggu dan aku dambakan akhirnya terpuaskan sudah. Novel salah satu karya Habiburrahman yang berjudul ketika cinta bertasbih jilid II yang ku beli hari telah kubaca habis dengan waktu yang singkat 1 hari kurang (lebih cepat dibandingkan ketika aku baca yang pertama). Kepuasanku bagaikan seorang musafir yang kehausan di padang pasir dan dalam kehausannya itu ia menemukan mata air yang rasanya manis melebihi madu setelah menjalani perjuangan untuk bertahan hidup dipadang gersang nan ganas bagaikan singa menikmati mangsanya.

Agak berlebihan memang, jika aku mendeskripsikan kehausan ku tersebut. Setelah lama tidak membaca dan rasa keingintahuan ending dari novel tersebut tapi toh bagiku itu sesuatu hal yang wajar saja jika kepusan tersebut aku ibaratkan dengan mendeskripsikan hal tersebut, ada yang mau protes?silahkan saja?!

Mulanya aku tak begitu kenal dengan Habiburrahman setelah membaca salah satu novelnya (ketika cinta bertasbih I) rasa ingin tahu ku dan rasa salutku padanya mendorongku utuk memburu edisi keduanya, walaupun sebenarnya tidah haya ketika cinta bertasbih saja karya Habib, tapi saat itu jilid II lah yang sedang ku tunggu, dan jika ada sedikit uang lagi akan ku usahakan untuk membeli karya Habib yang lain.

Satu hal yang menarik adalah perjalanan seorang pemuda yang harus menghidupi keluarganya yang jauh di Indonesia dan dia menjadi mahasiswa di Azhar Cairo, dengan berjualan bakso dan tempe tapi dengan itulah ia mendapat sukses. Ketaatan dan kelembutannya kepada Ibu dan adik-adiknya adalah suatu hal yang tidak ku dapatkan didalam hubungan keluarga ku yang memang agak keras karena terpengaruh kultur orang Sumatera, walaupun aku sendiri adalah putra jawa (PUJAKESUMA = Putra Jawa Kelahiran Sumatera). semoga Kelembutan pemuda tersebut pada ibunya dapat ku jadikan contoh sehingga ibuku bangga mempunyai anak seorang Iskam Triwibowo.

Tidak ada komentar: