Kamis, 22 November 2007
Surat Buat Bunda
Assalamu'alaikum....
Wahai bunda, perempuan perkasa yang telah melahirkan aku apa kabar mu? Wahai bunda yang selalu ada dengan kasihmu, masihkah kau bersedih?.
Bunda Janganlah kau bersedih terus, anakmu inipun gundah jika melihatmu bersedih menahun yang tiada henti menahun, bunda tersenyumlah karena aku sangat ingin sekali melihat mu tersenyum. Sebagai anakmu saja aku masih tak ingat terakhir kali kau tersenyum tersenyumlah walau untuk anak mu ini. Ku pahami akan semua kesedihan, kegalaun, kemuramdurjanya hatimu. Bunda mari...berbagilah kesedihan, kegalauan, kemuramdurjanya hatimu yang seolah mendung tiada henti.
Berbagilah denganku Bunda agar teringankan beban yang selama ini kau pikul, sudah saatnya kau duduk istirahat melihat cucumu bercengkrama riang sebagaimana kau melihatku senang ketika masa-masa menggemaskanku. Bunda aku adalah anak yang selama ini merindukan senyum penuh kasihmu pada anak - anak mu pandawa lima ini. Bagaimana aku bisa tersenyum jika kau tak bisa tersenyum bunda.
Bunda, kumohonkan pada dirimu sebelum kau meninggalkanku untuk selamanya kuingin melihat senyum bahagia mu yang menyejukkan itu.
Wahai bunda, perempuan perkasa yang telah melahirkan aku apa kabar mu? Wahai bunda yang selalu ada dengan kasihmu, masihkah kau bersedih?.
Bunda Janganlah kau bersedih terus, anakmu inipun gundah jika melihatmu bersedih menahun yang tiada henti menahun, bunda tersenyumlah karena aku sangat ingin sekali melihat mu tersenyum. Sebagai anakmu saja aku masih tak ingat terakhir kali kau tersenyum tersenyumlah walau untuk anak mu ini. Ku pahami akan semua kesedihan, kegalaun, kemuramdurjanya hatimu. Bunda mari...berbagilah kesedihan, kegalauan, kemuramdurjanya hatimu yang seolah mendung tiada henti.
Berbagilah denganku Bunda agar teringankan beban yang selama ini kau pikul, sudah saatnya kau duduk istirahat melihat cucumu bercengkrama riang sebagaimana kau melihatku senang ketika masa-masa menggemaskanku. Bunda aku adalah anak yang selama ini merindukan senyum penuh kasihmu pada anak - anak mu pandawa lima ini. Bagaimana aku bisa tersenyum jika kau tak bisa tersenyum bunda.
Bunda, kumohonkan pada dirimu sebelum kau meninggalkanku untuk selamanya kuingin melihat senyum bahagia mu yang menyejukkan itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar